Berpegang Teguh dengan Syariat Allah Taala

Siapakah muslim yang hakiki itu?
    Muslim adalah isim fa’il dari aslama yang bermakna tunduk dan patuh kepada Rabbnya dan penciptanya. Islam dengan makna ini adalah mencakup ketundukan seluruh makhluk kepada Allah Ta’ala, dan masuk di dalamnya risalah para Rasul Allah Ta’ala.
    Seluruh syari’at Allah Ta’ala semuanya bertemu di dalam mengikhlaskan ibadah kepada Allah Ta’ala, tunduk kepadanya, dan pasrah kepada syari’atnya serta berpegang teguh dengan perintah dan larangannya, meskipun bermacam-macan syari’atnya dan berbilang-bilang jalannya. Sebagaimana dalam hadits:
نحن معشر الانبياء أولاد علات ديننا واحد
    Artinya:
“Kami para nabi adalah bersaudara (dari keturunan) satu ayah dengan ibu yang berbeda sedangkan agama kami adalah satu” (muttafaq ‘alaih).
    Dan sesudah diutusnya Rasul yang mulia Muhammad shallallohu ‘alaihi wasallam  jadilah Islam sebagai lambang atas syari’atnya dan tanda bagi pemeluk agamanya dan tidak boleh bagi seorang pun dari jin dan manusia keluar dari agama Islam yang Allah Ta’ala telah mengutus dengannya.
    Islam dan Iman adalah dua lafadz yang jika keduanya dikumpulkan di dalam satu tempat maka yang dimaksud dengan Islam adalah amalan yang dzahir, sedangkan Iman adalah amalan yang batin. Adapun jika kata Islam dan Iman disebutkan maka yang dimaksud dengan hal tersebut adalah amalan yang dzahir dan batin sekaligus.
    Asy-Syaikh Ibn Abdul Wahhab Hafidzhahullah telah mendefinisikan Islam bahwa ia adalah kepasrahan kepada Allah Ta’ala dengan mentauhidkannya, ketundukan kepadanya dengan ketaatan, dan melepaskan diri dari kesyirikan.
    Maka seorang muslim yang hakiki adalah yang diberi taufiq untuk masuk kedalam Islam atau tumbuh di atas Islam dan berpegang teguh dengannya secara ucapan, perbuatan, dan keyakinan hingga datang kematian kepadanya.
    Berpegangnya seorang muslim dengan hukum syari’at Islam adalah wajib.
Syari’at yang sempurna lagi menyeluruh ini wajib seorang muslim berpegang teguh dengan hukum-hukumnya dan tidak ada pilihan bagi seorang muslim di dalam hal ini, dan kebutuhan kepada penerapan ajaran-ajaran Islam melebihi semua kebutuhannya dan daruratnya seorang muslim kepada hal itu melebihi seluruh perkara daruratnya agar dia beruntung dengan keridhaan Allah Ta’la dan selamat dari kemurkaan dan kepedihan azabnya.
Allah Ta`ala berfirman, yang artinya :
    “Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintahnya takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa adzab yang pedih” (Qs. An Nur:63)
    Buah kebaikan dari berpegang teguh dengan syari’at Islam dan dampak buruk dari meninggalkannya.
    Jika seorang yang berakal di zaman ini ingin mengetahui atas kebenaran hakikat ini, yaitu bahwa kaum muslimin menang dengan sebab berpegang teguhnya mereka dengan syari’at Islam yang Allah Ta’ala pilihkan untuk mereka dan kalah ketika mereka tidak butuh kepadanya dan jauhnya mereka dari mengambil ajarannya, dan mereka tidak berhukum dengan wahyu yang Allah Ta’ala turunkan, malahan mereka memilih untuk diri-diri mereka berhukum kepada undang-undang buatan manusia. Tatkala kaum muslimin tidak berpegang teguh dengan syari’at yang sempurna ini yang relevan untuk setiap zaman dan tempat.
    Dan tidak akan bangkit kekuatan kaum muslimin kecuali setelah mereka kembali kepada berpegang teguh dengan Allah Ta’ala dan syari’atnya.
    Rasulullah shallallohu ‘alaihi wasallam bersabda:

إِذَا تَبَايَعÙتُم٠بِالÙعِينَةِ، وَأَخَذÙتُم٠أَذÙنَابَ الÙبَقَرِ، وَرَضِيتُم٠بِالزَّرÙعِ، وَتَرَكÙتُمُ الÙجِهَادَ سَلَّطَ اللَّهُ جَلَّ وَعَزَّ عَلَيÙكُم٠ذُلًّا لَا ÙŠÙŽÙ†Ùزِعُهُ عَنÙكُم٠حَتَّى تَرÙجِعُوا إِلَى دِينِكُمÙ
    Artinya:
“Jika kalian berjual beli dengan cara ‘inah, dan kalian mengambil ekor-ekor sapi dan kalian rela dengan bercocok tanam dan kalian tinggalkan jihad, Allâh Azza wa Jalla akan menimpakan kehinaan kepada kalian. Kehinaan itu tidak akan diangkat dari kalian sampai kalian kembali ke agama kalian.”
Mengapa kita khawatir? Karena zaman ini adalah zaman yang penuh tipu daya. Rasulullah shallallohu ‘alaihi wasallam bersabda,
بَدَأَ الإِسÙلاَمُ غَرِيبًا وَسَيَعُودُ كَمَا بَدَأَ غَرِيبًا فَطُوبَى لِلÙغُرَبَاءِ
“Islam datang dalam keadaan yang asing, akan kembali pula dalam keadaan asing. Sungguh beruntunglah orang yang asing.” (HR. Muslim).
Oleh karena itu, hendaknya keadaan demikian membuat kita semakin sadar. Betapa butuhnya kita untuk terus berpegang dengan agama kita. Bersabar dalam menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Hendaknya kita waspada dari gangguan orang-orang yang menyimpang, pemikiran-pemikiran yang buruk, yang bisa merusak agama kita dan anak-anak kita. Dan yang terpenting adalah kita tidak akan mampu berpegang teguh dengan agama ini secara benar tanpa mempelajari dan mengetahuinya. Semoga Allah melindungi kita.

Penulis         : Oban Nur Syahbana, santriwan kelas 10 bahasa 2
Muroja’ah     : Ustadz Fawwaz ibnu Yusuf, B.A


235 Pembaca    |    1 Komentator
Share :
Tag : berpegang teguh syariat, sunnah, alquran , ustadz fawwaz,

Kirim Pesan Anda