Sebab Terjadinya Perang Salib (Lanjutan)

Oleh Ust. Barkah Nurramdhani, Staff Pengajar SMAIT TQ Ihya As-Sunnah
Tasikmalaya, 26 Oktober 2016

Pada abad ke-5 H, berdirilah kesultanan Dinasti Seljuk yang wilayahnya mencakup Khurasan, Transoxiana (Ma Wara an-Nahr), Iran, Irak, Syiria, dan Asia Kecil. Negara ini didirikan oleh Togrul Bek as-Saljuqiyah. Dia berhasil menjatuhkan Daulah Buwaihiyah-Syiah yang pada tahun 447 H dikuasiai oleh Khalifah Abbasiyah dan berpusat di Baghdah. Kemudian, dia mendirikan negara baru hingga dia wafat pada tahun 455 H. Setelah Thogrul Bek wafat, kursi kekuasaan lalu diduduki oleh keponakannya yang bernama Alib Arselan, seorang panglima yang amat brilian dan berani seperti pamannya. Arselan berhasil menjaga keamanan diseluruh kekuasaannya yang amat luas. Di kemudian hari, wangsa Seljuk memandang perlu menyatukan seluruh dunia Islam di bawah kekuasaan Kekhalifahan Abbasiyah yang juga dipengaruhi oleh wangsa Seljuk.

Serangkaian penaklukan oleh kesultanan Seljuk inilah yang membuat kaisar Romawi, Armanus, naik pitam. Sang kaisar kemudian merancang sebuah penyerangan untuk menjaga wilayah kekaisarannya. Tak lama kemudian, pasukan Armanus sudah terjun dalam berbagai pertempuran. Salah satu peristiwa penting adalah Pertempuran Malazgirt pada tahun 463 H. Pertempuran ini kelak menjadi begitu berkesan bagi pasukan Muslim. Bahkan, ia sering disetarakan dengan pertempuran-pertempuran agung seperti Badar, Yarmuk, Qadisiyah, Hittin, Ain Jalut, Zallaqah, dan beberapa peperangan dahsyat lain yang telah mengubah serta membelokkah alur sejarah. Kemenangan gemilang pasukan muslim dalam pertempuran Malazgirt benar-benar telah menjadi poin penting dalam sejarah. Sebab, lewat pertempuran inilah pasukan muslim berhasil meruntuhkan dominasi Kekaisaran Byzantium atas sebagian besar kawasan di Asia kecil. Setelah beberapa saat Byzantium menjadi semacam duri yang melesak di tenggorakan umat Islam, Akhirnya Sultan Muhammad Al-Fatih dari wangsa Daulah  Utsmaniyah berhasil merebut Konstantinopel dan menamatkan riwayat Byzantium untuk selama-lamanya.


Pada tahun 463 H, Raja Romawi Armanus (Romanos) merangsak dengan pasukan laksana gunung yang  terdiri dari bangas Romawi, Georgia, dan Frank. Jumlah mereka sekitar 35.000 panglima. Masing-masing panglima membawahi dua ratus prajurit kavaleri. Bangsa Frank yang ikut dalam peperangan ini berjumlah 35.000 prajurit. Sementara itu, pasukan yang berasal dari konstantinopel mencapai 15.000 orang. Mereka membawa seratus ribu alat pelubang tembok, seribu pekerja beserta empat ratus kereta pembawa ladam dan paku, seribu kereta pembawa senjata, perisai perang, dan alat pelontar batu. Diantara peralatan perang itu terdapat seribu manjaniq dan dua ratus pelana kuda. Armanus itu rupanya benar-benar bertekad untuk memusnahkan Islam dan semua pemeluknya.


Akhirnya, Sultan Alib Arselan bersama hampir 20.000 pasukannya berhadapan dengan pasukan Armanus di sebuah tempat yang disebut Zahwah. Pada saat itu, sang Sultan sempat takut karena harus menghadapi pasukan Romawi. Tampilah seorang faqih bernama Abu Nashr Muhammad bin Abdul Malik al-Bukhari yang menyarankan agar pertempuran dimulai hari Jum’at setelah matahari condong ke barat, agar para khatib Jumat dapat terlebih dulu mendoakan para mujahidin.


Ketika waktu itu tiba. Bertemulah dua pasukan tersebut. Di medan perang, Sultan Arselan turun dari punggung kudanya dan kemudian bersujud kepada Allah sembari berdoa memohon pertolongan dari-Nya. Allah pun menolong pasukan muslim yang kemudian menghancurkan pasukan Romawi. Bahkan, pasukan muslim berhasil menawan Armanus yang justru ditangkap oleh seorang budak Romawi.


696 Pembaca    |    1 Komentator
Share :

Kirim Pesan Anda